KETIKA SISTEM TAK LAGI SEDERHANA
Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Ekasakti PadangDosen Pengampu : Fani Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.PEmail Penulis : Pratamayugi500@gmail.com
Di sebuah kota yang terus berkembang, hidup seorang mahasiswa bernama Yogi yang sedang menempuh studi Ilmu Administrasi Negara Universitas Ekasakti Padang. Sehari-hari ia tidak pernah lepas dari teknologi: smartphone, laptop, dan berbagai aplikasi pelayanan publik yang kini mulai digunakan pemerintah daerah.
Suatu hari, kampusnya mengadakan kegiatan studi lapangan ke kantor pelayanan publik di Kota Padang. Tujuannya untuk melihat bagaimana sistem digital membantu administrasi pemerintahan berjalan lebih cepat dan transparan.
Yogi dan teman-temannya disambut oleh seorang pegawai muda yang menjelaskan tentang sistem layanan berbasis aplikasi. Semua proses mulai dari pendaftaran, pengajuan dokumen, hingga pelaporan sudah dilakukan secara digital.
“Sekarang masyarakat tidak perlu lagi antre lama seperti dulu,” kata pegawai itu sambil menunjukkan layar dashboard pelayanan.
Yogi mencatat sambil mengamati layar sistem. Matanya fokus pada alur data yang bergerak cepat.
Saat sesi wawancara kecil dimulai, Yogi kembali mengangkat tangan.
“Pak, apakah semua masyarakat di Kota Padang sudah bisa menggunakan sistem ini dengan baik?”
“Iya,” jawab pegawai itu. “Dan itu yang sedang kami upayakan. Kami juga sering melakukan sosialisasi ke kelurahan.”
Yogi mengangguk pelan, tapi pikirannya mulai bekerja lebih dalam.
Beberapa hari setelah kembali dari lapangan, Yogi mencoba mengakses sendiri aplikasi pelayanan publik itu.
Ia duduk di kamar sambil memegang laptop.
“Coba aku tes sendiri, seberapa mudah sebenarnya sistem ini,” gumamnya.
Ia mulai login.
“Hmm… kenapa verifikasinya lama sekali?” katanya pelan.
Ia mencoba lagi.
“Password salah? Padahal tadi sudah benar…”
Ia menghela napas dan membuka ponselnya.
“Kalau aku saja agak bingung, apalagi masyarakat yang tidak terbiasa,” ucapnya pelan.
Kalimat itu membuat Yogi terdiam.
Keesokan harinya di kampus, Yogi berdiskusi dengan dosennya.
“Pak, saya menemukan masalah di lapangan,” kata Yogi.
“Walaupun sudah digital, masih banyak masyarakat yang kesulitan mengaksesnya. Bahkan sistemnya sendiri belum sepenuhnya ramah pengguna.”
Yogi kemudian menulis laporan dengan judul “Desain Sistem Pelayanan Publik yang Ramah Pengguna di Kota Padang”.
Di dalam tulisannya, ia menambahkan banyak hasil wawancara dan pengalaman langsung.
Beberapa bulan kemudian, saat presentasi di kelas, Yogi berdiri di depan teman-temannya.
“Teknologi itu bukan hanya soal cepat dan canggih,” katanya.
“Ya,” jawab Yogi. “Kalau hanya canggih tapi sulit digunakan, itu malah jadi masalah baru.”
Setelah presentasi selesai, Yogi berdiri di depan jendela kampus. Di luar, ia melihat orang-orang menggunakan ponsel mereka untuk berbagai keperluan.
Ia menatap langit Kota Padang yang mulai senja.
Di dunia nyata, teknologi tidak selalu sempurna. Tapi di tangan manusia yang tepat, teknologi bisa menjadi jembatan bukan penghalang antara kemajuan dan kehidupan sehari-hari.
.webp)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar