Minggu, 17 Mei 2026

Cerpen Ketika Sistem Tak Lagi Sederhana oleh Yogi Pratama Saputra

KETIKA SISTEM TAK LAGI SEDERHANA 

Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Ekasakti Padang
Dosen Pengampu : Fani Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P
Email Penulis : Pratamayugi500@gmail.com


Di sebuah kota yang terus berkembang, hidup seorang mahasiswa bernama Yogi yang sedang menempuh studi Ilmu Administrasi Negara Universitas Ekasakti Padang. Sehari-hari ia tidak pernah lepas dari teknologi: smartphone, laptop, dan berbagai aplikasi pelayanan publik yang kini mulai digunakan pemerintah daerah.

Suatu hari, kampusnya mengadakan kegiatan studi lapangan ke kantor pelayanan publik di Kota Padang. Tujuannya untuk melihat bagaimana sistem digital membantu administrasi pemerintahan berjalan lebih cepat dan transparan.

Yogi dan teman-temannya disambut oleh seorang pegawai muda yang menjelaskan tentang sistem layanan berbasis aplikasi. Semua proses mulai dari pendaftaran, pengajuan dokumen, hingga pelaporan sudah dilakukan secara digital.

“Sekarang masyarakat tidak perlu lagi antre lama seperti dulu,” kata pegawai itu sambil menunjukkan layar dashboard pelayanan.

Yogi mengangguk, lalu bertanya,
“Berarti semua layanan sudah 100% digital, Pak?”

Pegawai itu tersenyum.
“Belum 100%, nak. Kita masih transisi. Tapi sebagian besar sudah digital.”

Teman Yogi ikut bertanya,
“Kalau jaringan error atau sistemnya down, bagaimana, Pak?”

Pegawai itu menarik napas kecil.
“Nah, itu tantangan terbesar. Kami masih siapkan sistem cadangan manual kalau terjadi gangguan.”

Yogi mencatat sambil mengamati layar sistem. Matanya fokus pada alur data yang bergerak cepat.

Saat sesi wawancara kecil dimulai, Yogi kembali mengangkat tangan.

“Pak, apakah semua masyarakat di Kota Padang sudah bisa menggunakan sistem ini dengan baik?”

Pegawai itu terdiam sejenak, lalu menjawab pelan,
“Tidak semuanya. Bahkan masih banyak yang datang langsung ke kantor karena tidak paham cara pakai aplikasi.”

Yogi melanjutkan,
“Berarti masih ada kesenjangan digital ya, Pak?”

“Iya,” jawab pegawai itu. “Dan itu yang sedang kami upayakan. Kami juga sering melakukan sosialisasi ke kelurahan.”

Teman Yogi menimpali,
“Kalau orang tua yang tidak punya smartphone, bagaimana?”

Pegawai itu tersenyum tipis.
“Mereka tetap dilayani. Sistem digital itu membantu, bukan menggantikan pelayanan tatap muka.”

Yogi mengangguk pelan, tapi pikirannya mulai bekerja lebih dalam.

Beberapa hari setelah kembali dari lapangan, Yogi mencoba mengakses sendiri aplikasi pelayanan publik itu.

Ia duduk di kamar sambil memegang laptop.

“Coba aku tes sendiri, seberapa mudah sebenarnya sistem ini,” gumamnya.

Ia mulai login.

“Hmm… kenapa verifikasinya lama sekali?” katanya pelan.

Ia mencoba lagi.

“Password salah? Padahal tadi sudah benar…”

Ia menghela napas dan membuka ponselnya.

“Kalau aku saja agak bingung, apalagi masyarakat yang tidak terbiasa,” ucapnya pelan.

Ibunya yang sedang lewat di belakang bertanya,
“Kamu kenapa dari tadi ngomel sendiri, Yog?”

Yogi tersenyum kecil.
“Ini aplikasi pelayanan publik, Bu. Katanya gampang, tapi ternyata masih membingungkan.”

Ibunya menjawab sederhana,
“Kalau orang tua seperti ibu, mungkin malah tambah pusing.”

Kalimat itu membuat Yogi terdiam.

Keesokan harinya di kampus, Yogi berdiskusi dengan dosennya.

“Pak, saya menemukan masalah di lapangan,” kata Yogi.

Dosen bertanya,
“Masalah apa itu?”

“Walaupun sudah digital, masih banyak masyarakat yang kesulitan mengaksesnya. Bahkan sistemnya sendiri belum sepenuhnya ramah pengguna.”

Dosen mengangguk.
“Itu temuan penting. Lalu menurut kamu solusinya?”

Yogi menjawab mantap,
“Mungkin perlu desain ulang sistem yang lebih sederhana, Pak. Dan edukasi digital untuk masyarakat.”

Dosen tersenyum.
“Bagus. Itu sudah masuk ke arah kebijakan publik berbasis kebutuhan masyarakat.”

Yogi kemudian menulis laporan dengan judul “Desain Sistem Pelayanan Publik yang Ramah Pengguna di Kota Padang”.

Di dalam tulisannya, ia menambahkan banyak hasil wawancara dan pengalaman langsung.

Beberapa bulan kemudian, saat presentasi di kelas, Yogi berdiri di depan teman-temannya.

“Teknologi itu bukan hanya soal cepat dan canggih,” katanya.

Salah satu teman bertanya,
“Kalau tidak canggih, buat apa digitalisasi, Yog?”

Yogi menjawab tenang,
“Bukan begitu maksudnya. Teknologi harus tetap canggih, tapi juga harus bisa dipakai semua orang.”

Teman lain menambahkan,
“Jadi harus seimbang ya?”

“Ya,” jawab Yogi. “Kalau hanya canggih tapi sulit digunakan, itu malah jadi masalah baru.”

Dosen kemudian bertanya,
“Kalau kamu jadi pembuat kebijakan, apa langkah pertama kamu?”

Yogi menjawab tanpa ragu,
“Saya akan memastikan sistem itu benar-benar bisa digunakan masyarakat, bukan hanya terlihat modern di atas kertas.”

Dosen mengangguk puas.
“Pemikiran yang bagus.”

Setelah presentasi selesai, Yogi berdiri di depan jendela kampus. Di luar, ia melihat orang-orang menggunakan ponsel mereka untuk berbagai keperluan.

Temannya mendekat dan berkata,
“Kamu serius banget sih dari tadi.”

Yogi tersenyum.
“Kadang teknologi itu kelihatan sederhana, tapi dampaknya besar.”

Temannya menjawab santai,
“Yang penting kan membantu orang, ya?”

Yogi mengangguk.
“Iya. Dan tugas kita memastikan semua orang bisa merasakannya.”

Ia menatap langit Kota Padang yang mulai senja.

Di dunia nyata, teknologi tidak selalu sempurna. Tapi di tangan manusia yang tepat, teknologi bisa menjadi jembatan bukan penghalang antara kemajuan dan kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel E-GOVERNMENT DI INDONESIA: PENERAPAN, PERMASALAHAN, DAN PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP SIRANCAK

  E-GOVERNMENT DI INDONESIA: PENERAPAN, PERMASALAHAN, DAN PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP SIRANCAK Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administra...