Selasa, 19 Mei 2026

Artikel E-GOVERNMENT DI INDONESIA: PENERAPAN, PERMASALAHAN, DAN PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP SIRANCAK

 E-GOVERNMENT DI INDONESIA: PENERAPAN, PERMASALAHAN, DAN PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP SIRANCAK

Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Ekasakti Padang

Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem Informasi Managament Dan E-governance

Fani Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P

Email Penulis : Pratamayugi500@gmail.com

ABSTRAK

Perkembangan teknologi informasi mendorong pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui penerapan electronic government (e-government). E-government merupakan bentuk pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan pemerintahan untuk menciptakan pelayanan yang lebih efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Di Indonesia, penerapan e-government terus berkembang melalui berbagai aplikasi pelayanan publik berbasis digital, salah satunya adalah aplikasi SIRANCAK di Kota Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian e-government, contoh aplikasi pemerintah, permasalahan yang terjadi dalam penerapan e-government, serta pendapat dan solusi mahasiswa terhadap penggunaan aplikasi SIRANCAK.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dari berbagai buku, jurnal, dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan e-government membantu meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mempermudah masyarakat dalam memperoleh layanan secara digital. Namun demikian, penerapan sistem masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, gangguan jaringan, keamanan data, serta rendahnya literasi digital masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan sosialisasi kepada masyarakat agar penerapan e-government dapat berjalan secara optimal.

Kata Kunci: E-Government, Pelayanan Publik, SIRANCAK, Teknologi Informasi, Indonesia.

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi di era digital membawa perubahan besar terhadap sistem pemerintahan di Indonesia. Pemerintah dituntut untuk mampu memberikan pelayanan publik yang cepat, transparan, efektif, dan efisien kepada masyarakat. Salah satu bentuk inovasi pelayanan publik yang berkembang saat ini adalah penerapan electronic government atau e-government.

E-government merupakan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan pemerintahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat transparansi, serta mendukung efektivitas administrasi pemerintahan. Menurut World Bank, e-government adalah penggunaan teknologi informasi oleh instansi pemerintah untuk meningkatkan hubungan dengan masyarakat, dunia usaha, dan pihak lainnya.

Penerapan e-government di Indonesia semakin berkembang melalui berbagai aplikasi pelayanan publik berbasis digital. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah mulai memanfaatkan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi, kesehatan, pendidikan, perpajakan, dan berbagai sektor lainnya. Salah satu contoh penerapan e-government di Kota Padang adalah penggunaan aplikasi SIRANCAK sebagai sistem pelayanan berbasis digital.

Meskipun demikian, penerapan e-government masih menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, keamanan data, dan rendahnya kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi digital. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem dan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar pelayanan publik berbasis digital dapat berjalan secara optimal.

PEMBAHASAN

A. Pengertian E-Government

E-government merupakan sistem pemerintahan berbasis elektronik yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Penggunaan e-government membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan yang lebih cepat, efektif, efisien, dan transparan kepada masyarakat.

Menurut Indrajit, e-government adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan hubungan antara pemerintah dengan masyarakat, dunia usaha, dan pihak lain yang berkepentingan. Sementara itu, menurut World Bank, e-government merupakan penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pelayanan publik.

Penerapan e-government membantu pemerintah mengurangi proses administrasi manual serta mempercepat penyampaian informasi kepada masyarakat. Selain itu, penggunaan sistem digital juga membantu meningkatkan transparansi dan mengurangi praktik birokrasi yang berbelit-belit.

B. Contoh Aplikasi Pemerintah di Indonesia

Penerapan e-government di Indonesia dapat dilihat melalui berbagai aplikasi pelayanan publik yang digunakan oleh pemerintah. Salah satu contohnya adalah BPJS Kesehatan Mobile JKN yang digunakan untuk pelayanan kesehatan masyarakat secara digital. Aplikasi tersebut membantu masyarakat dalam pendaftaran peserta, pembayaran iuran, serta pemeriksaan layanan kesehatan secara online.

Selain itu, pemerintah juga menggunakan DJP Online Direktorat Jenderal Pajak untuk pelayanan perpajakan berbasis elektronik. Melalui sistem tersebut, masyarakat dapat melaporkan pajak secara online tanpa harus datang langsung ke kantor pajak.

Di Kota Padang, penerapan e-government dapat dilihat melalui penggunaan aplikasi SIRANCAK sebagai sistem pelayanan publik berbasis digital. Sistem ini digunakan untuk membantu proses administrasi dan pelayanan masyarakat secara lebih cepat dan terstruktur.

Penggunaan berbagai aplikasi digital tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui pemanfaatan teknologi informasi.

C. Permasalahan yang Terjadi dalam Penerapan E-Government

Meskipun memberikan banyak manfaat, penerapan e-government di Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan. Salah satu masalah utama adalah keterbatasan infrastruktur teknologi, terutama pada daerah yang belum memiliki akses internet yang stabil. Gangguan jaringan sering menyebabkan pelayanan digital tidak berjalan secara optimal.

Selain itu, keamanan data juga menjadi tantangan dalam penerapan e-government. Risiko kebocoran data dan kejahatan siber dapat mengancam keamanan informasi masyarakat yang tersimpan dalam sistem digital pemerintah.

Permasalahan lainnya adalah rendahnya literasi digital masyarakat dan kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem teknologi informasi. Masih banyak masyarakat yang belum memahami penggunaan aplikasi pelayanan publik berbasis digital sehingga proses pelayanan belum berjalan secara maksimal.

Kurangnya sosialisasi mengenai penggunaan aplikasi pemerintah juga menjadi salah satu hambatan dalam penerapan e-government. Oleh karena itu, pemerintah perlu meningkatkan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat serta pegawai agar penggunaan sistem digital dapat berjalan secara efektif.

D. Pendapat dan Solusi Mahasiswa terhadap SIRANCAK

Sebagai mahasiswa, penerapan aplikasi SIRANCAK di Kota Padang merupakan langkah positif dalam mendukung pelayanan publik berbasis digital. Penggunaan sistem digital membantu mempercepat proses administrasi dan mempermudah masyarakat dalam memperoleh layanan tanpa harus melalui prosedur yang panjang.

Menurut pandangan mahasiswa, aplikasi SIRANCAK dapat meningkatkan efektivitas pelayanan publik karena data dan informasi dapat diproses secara lebih cepat dan terintegrasi. Selain itu, sistem ini juga membantu meningkatkan transparansi pelayanan sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi secara lebih mudah.

Namun demikian, masih terdapat beberapa kendala dalam penggunaan aplikasi SIRANCAK seperti gangguan jaringan, tampilan sistem yang belum sepenuhnya mudah digunakan, serta kurangnya pemahaman masyarakat mengenai penggunaan aplikasi digital.

Sebagai solusi, pemerintah perlu meningkatkan kualitas jaringan dan infrastruktur teknologi agar sistem dapat berjalan lebih stabil. Selain itu, diperlukan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat mengenai penggunaan aplikasi SIRANCAK agar pelayanan publik berbasis digital dapat dimanfaatkan secara optimal. Pengembangan fitur aplikasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami juga perlu dilakukan agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat menggunakan sistem dengan baik.

KESIMPULAN

E-government merupakan bentuk pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan pemerintahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Penerapan e-government di Indonesia dapat dilihat melalui berbagai aplikasi pelayanan publik berbasis digital seperti BPJS Kesehatan, DJP Online, dan SIRANCAK di Kota Padang.

Penggunaan sistem digital membantu meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan transparansi pelayanan publik. Namun demikian, penerapan e-government masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, keamanan data, dan rendahnya literasi digital masyarakat.

Sebagai mahasiswa, penerapan aplikasi SIRANCAK dinilai memberikan dampak positif terhadap pelayanan publik di Kota Padang. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan sosialisasi kepada masyarakat agar penerapan e-government dapat berjalan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

  • Indrajit, Richardus Eko. 2016. Electronic Government. Yogyakarta: Andi.
  • Jogiyanto. 2017. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: Andi Offset.
  • Kadir, Abdul. 2014. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
  • Laudon, Kenneth C., & Laudon, Jane P. 2018. Management Information Systems. New York: Pearson Education.
  • Sutabri, Tata. 2016. Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
LAMPIRAN



Artikel PENGGUNAAN SIM DALAM ORGANISASI Dosen Pengampu Fatny Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P

PERAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DALAM ORGANISASI PUBLIK DAN DAMPAK PENGGUNAANNYA DI INDONESIA

Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Ekasakti Padang

Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem Informasi Managament Dan E-governance

Fani Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P

Email Penulis : Pratamayugi500@gmail.com

ABSTRAK

Perkembangan teknologi informasi memberikan pengaruh besar terhadap kegiatan organisasi publik di Indonesia. Organisasi publik dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang cepat, efektif, transparan, dan efisien kepada masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM). Sistem ini membantu organisasi dalam mengelola data dan informasi secara terintegrasi sehingga mendukung proses administrasi dan pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Sistem Informasi Manajemen dalam organisasi publik serta dampak penggunaannya di Indonesia.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dari berbagai buku, jurnal, dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Sistem Informasi Manajemen mampu meningkatkan efektivitas kerja organisasi, mempercepat pelayanan publik, meningkatkan akurasi data, serta mendukung transparansi administrasi. Selain itu, penerapan sistem digital juga membantu organisasi publik dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Namun demikian, penggunaan sistem masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, keamanan data, dan rendahnya kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem digital.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi Manajemen memiliki peran penting dalam mendukung organisasi publik di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan teknologi, peningkatan keamanan sistem, dan pelatihan sumber daya manusia agar penggunaan Sistem Informasi Manajemen dapat berjalan secara optimal.

Kata Kunci: Sistem Informasi Manajemen, Organisasi Publik, Pelayanan Publik, Teknologi Informasi, Indonesia.

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi di era digital membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam kegiatan organisasi publik. Pemerintah dan organisasi publik dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan transparan kepada masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan pemanfaatan teknologi melalui Sistem Informasi Manajemen (SIM).

Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem yang digunakan untuk mengelola data dan informasi guna mendukung kegiatan operasional organisasi. Menurut Kenneth C. Laudon dan Jane P. Laudon, Sistem Informasi Manajemen adalah sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen, dan strategi organisasi. Sementara itu, menurut Jogiyanto, Sistem Informasi Manajemen merupakan kumpulan sistem informasi yang saling berhubungan untuk menghasilkan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan.

Penggunaan Sistem Informasi Manajemen dalam organisasi publik semakin berkembang di Indonesia. Berbagai instansi pemerintah mulai menerapkan sistem digital untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Penggunaan teknologi informasi membantu mempercepat proses administrasi, meningkatkan efektivitas kerja, serta mendukung transparansi pelayanan publik.

Meskipun demikian, penerapan Sistem Informasi Manajemen masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, keamanan data, serta kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem digital. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem dan peningkatan kompetensi pegawai agar penggunaan teknologi dapat berjalan secara optimal.

DAMPAK PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Penggunaan Sistem Informasi Manajemen memberikan berbagai dampak positif bagi organisasi publik maupun organisasi swasta. Salah satu dampak utama adalah meningkatnya efisiensi kerja karena proses pengolahan data dan administrasi dapat dilakukan secara otomatis dan lebih cepat.

Selain itu, penggunaan SIM membantu meningkatkan akurasi data sehingga mengurangi kesalahan dalam pencatatan maupun pengolahan informasi. Sistem digital juga mempermudah organisasi dalam menyimpan dan mengakses data yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional dan pengambilan keputusan.

Dampak lainnya adalah meningkatnya kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan adanya sistem digital, proses pelayanan menjadi lebih cepat, mudah, dan transparan. Masyarakat tidak perlu lagi melalui prosedur yang panjang karena sebagian besar layanan dapat dilakukan secara elektronik.

Namun demikian, penggunaan SIM juga memiliki beberapa dampak negatif apabila tidak dikelola dengan baik. Risiko keamanan data menjadi salah satu tantangan utama dalam penggunaan teknologi informasi. Selain itu, ketergantungan terhadap teknologi dapat menyebabkan gangguan pelayanan apabila sistem mengalami kerusakan atau gangguan jaringan.

Penggunaan SIM juga memerlukan kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem digital. Oleh karena itu, organisasi perlu memberikan pelatihan kepada pegawai agar penggunaan sistem dapat berjalan secara optimal.

CONTOH KASUS DI INDONESIA

Salah satu contoh penerapan Sistem Informasi Manajemen di Indonesia dapat dilihat pada BPJS Kesehatan melalui penggunaan sistem digital dalam pelayanan kesehatan masyarakat. BPJS Kesehatan memanfaatkan Sistem Informasi Manajemen untuk mengelola data peserta, pembayaran iuran, pelayanan rumah sakit, serta administrasi kesehatan secara terintegrasi.

Penggunaan sistem digital pada BPJS Kesehatan membantu mempercepat proses pelayanan kepada masyarakat. Data peserta dapat diakses secara online sehingga mempermudah proses pendaftaran, pemeriksaan, hingga pembayaran layanan kesehatan. Selain itu, sistem tersebut membantu mengurangi penggunaan dokumen manual dan meningkatkan efisiensi administrasi.

Penerapan Sistem Informasi Manajemen pada BPJS Kesehatan juga membantu pemerintah dalam melakukan pengawasan terhadap pelayanan kesehatan di berbagai daerah. Informasi yang tersimpan dalam sistem dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan evaluasi kebijakan kesehatan nasional.

Namun demikian, penerapan sistem digital pada BPJS Kesehatan masih menghadapi beberapa kendala seperti gangguan jaringan, kesalahan data peserta, dan keterbatasan akses teknologi di beberapa wilayah. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan infrastruktur teknologi dan pengembangan sistem keamanan data agar pelayanan dapat berjalan secara optimal.

Berdasarkan contoh kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi Manajemen memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi informasi yang lebih efektif dan efisien.

KESIMPULAN

Sistem Informasi Manajemen memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan organisasi publik di Indonesia. Penggunaan sistem digital membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja organisasi, mempercepat pelayanan publik, meningkatkan akurasi data, serta mendukung transparansi administrasi.

Penerapan Sistem Informasi Manajemen pada BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa penggunaan teknologi informasi mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Namun demikian, penggunaan sistem masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, keamanan data, dan rendahnya kemampuan sumber daya manusia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan teknologi serta peningkatan kompetensi pegawai agar Sistem Informasi Manajemen dapat dimanfaatkan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

  • Davis, Gordon B. 2019. Management Information Systems. New York: McGraw-Hill.
  • Jogiyanto. 2017. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: Andi Offset.
  • Kadir, Abdul. 2014. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
  • Laudon, Kenneth C., & Laudon, Jane P. 2018. Management Information Systems. New York: Pearson Education.
  • Sutabri, Tata. 2016. Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
LAMPIRAN




Artikel PERAN SISTEM PEMROSESAN TRANSAKSI DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI BISNIS DI INDONESIA Dosen Pengampu Fatny Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P

PERAN SISTEM PEMROSESAN TRANSAKSI DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI BISNIS DI INDONESIA

Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Ekasakti Padang

Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem Informasi Managament Dan E-governance

Fani Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P

Email Penulis : Pratamayugi500@gmail.com

ABSTRAK

    Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam dunia bisnis di Indonesia. Perusahaan dituntut untuk mampu bekerja secara cepat, tepat, dan efisien dalam menghadapi persaingan global. Salah satu teknologi yang mendukung efisiensi bisnis adalah Sistem Pemrosesan Transaksi (SPT). Sistem ini digunakan untuk mengelola berbagai transaksi bisnis secara otomatis sehingga membantu perusahaan dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Sistem Pemrosesan Transaksi dalam meningkatkan efisiensi bisnis di Indonesia.

    Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dari berbagai buku, jurnal, dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sistem Pemrosesan Transaksi mampu mempercepat proses pengolahan data, mengurangi kesalahan administrasi, meningkatkan akurasi informasi, serta membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan. Selain itu, penerapan sistem digital juga memberikan kemudahan dalam pengelolaan transaksi penjualan, pembelian, pembayaran, dan pengarsipan data. Namun demikian, penerapan sistem masih menghadapi beberapa kendala seperti biaya implementasi, keamanan data, dan keterbatasan sumber daya manusia.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sistem Pemrosesan Transaksi memiliki peran penting dalam mendukung efisiensi bisnis di Indonesia. Oleh karena itu, perusahaan perlu meningkatkan penggunaan teknologi informasi serta mengembangkan sumber daya manusia agar sistem dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kata Kunci: Sistem Pemrosesan Transaksi, Efisiensi Bisnis, Teknologi Informasi, Digitalisasi, Indonesia.

PENDAHULUAN

    Perkembangan teknologi informasi di era modern memberikan pengaruh besar terhadap kegiatan bisnis di Indonesia. Perusahaan dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan efisien agar dapat bersaing di tengah perkembangan ekonomi digital. Salah satu teknologi yang banyak digunakan dalam kegiatan bisnis adalah Sistem Pemrosesan Transaksi (SPT). Sistem Pemrosesan Transaksi merupakan sistem informasi yang digunakan untuk mengelola dan memproses data transaksi dalam suatu organisasi atau perusahaan. Sistem ini membantu perusahaan dalam mencatat transaksi penjualan, pembelian, pembayaran, penggajian, serta berbagai aktivitas bisnis lainnya secara otomatis dan terstruktur.

    Menurut Kenneth C. Laudon dan Jane P. Laudon, Sistem Pemrosesan Transaksi adalah sistem komputerisasi yang melakukan dan mencatat transaksi rutin harian yang diperlukan dalam menjalankan bisnis. Sementara itu, menurut Tata Sutabri, Sistem Pemrosesan Transaksi merupakan sistem informasi yang digunakan untuk memproses data transaksi organisasi secara cepat dan akurat.

Di Indonesia, penggunaan Sistem Pemrosesan Transaksi semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam dunia usaha. Berbagai perusahaan, mulai dari UMKM hingga perusahaan besar, telah memanfaatkan sistem digital untuk meningkatkan efisiensi kerja dan kualitas pelayanan kepada konsumen.

    Meskipun demikian, penerapan Sistem Pemrosesan Transaksi masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, keamanan data, serta kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem dan peningkatan kompetensi tenaga kerja agar teknologi dapat dimanfaatkan secara maksimal.

PEMBAHASAN

    Sistem Pemrosesan Transaksi adalah sistem informasi yang digunakan untuk mengelola data transaksi harian dalam suatu organisasi atau perusahaan. Sistem ini berfungsi untuk mencatat, memproses, menyimpan, dan menghasilkan informasi dari berbagai aktivitas transaksi bisnis. Menurut Gordon B. Davis, Sistem Pemrosesan Transaksi merupakan sistem yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, memodifikasi, dan mengambil data transaksi organisasi. Sistem ini menjadi dasar penting dalam operasional perusahaan karena membantu menjaga ketepatan dan kecepatan pengolahan data.

Dalam dunia bisnis, Sistem Pemrosesan Transaksi memiliki peran yang sangat penting karena membantu perusahaan dalam mempercepat proses transaksi serta meningkatkan efisiensi kerja. Penggunaan sistem digital memungkinkan perusahaan mengurangi kesalahan pencatatan data dan mempermudah pengelolaan administrasi. Selain itu, sistem ini juga menyediakan informasi yang dibutuhkan manajemen dalam proses pengambilan keputusan.

Penerapan Sistem Pemrosesan Transaksi di Indonesia dapat ditemukan dalam berbagai sektor bisnis. Pada sektor perdagangan, sistem kasir digital digunakan untuk mempercepat proses pembayaran dan pencatatan penjualan. Pada sektor perbankan, penggunaan mobile banking dan internet banking membantu masyarakat melakukan transaksi secara cepat tanpa harus datang ke kantor bank. Selain itu, perkembangan pembayaran digital seperti QRIS dan dompet elektronik juga menunjukkan bahwa penggunaan sistem transaksi digital semakin berkembang di Indonesia.

Salah satu contoh penerapan Sistem Pemrosesan Transaksi di Indonesia dapat dilihat pada Shopee Indonesia sebagai perusahaan e-commerce yang memanfaatkan teknologi digital dalam mengelola transaksi bisnis secara cepat dan efisien. Sistem Pemrosesan Transaksi digunakan untuk mencatat transaksi penjualan, pembayaran, pengiriman barang, serta pengelolaan data pelanggan secara otomatis dan terintegrasi.

Dalam kegiatan operasionalnya, Shopee menggunakan sistem transaksi digital untuk mendukung berbagai metode pembayaran seperti transfer bank, dompet digital, dan QRIS. Sistem tersebut membantu mempercepat proses transaksi sehingga konsumen dapat melakukan pembelian dengan lebih mudah dan praktis. Selain itu, data transaksi tersimpan secara otomatis dalam sistem sehingga memudahkan perusahaan dalam melakukan pengawasan serta penyusunan laporan bisnis.

Penerapan Sistem Pemrosesan Transaksi juga membantu meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan. Melalui sistem yang terintegrasi, proses pemesanan barang, konfirmasi pembayaran, hingga pelacakan pengiriman dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Penggunaan teknologi tersebut membantu mengurangi kesalahan pencatatan manual serta meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Hal tersebut didukung oleh jurnal berjudul “Analisis Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Pada Marketplace Shopee” yang menjelaskan bahwa sistem transaksi digital pada Shopee mampu membantu proses pengolahan data penjualan secara efektif dan meningkatkan efisiensi kegiatan bisnis. Selain itu, jurnal “Pengaruh E-Commerce Shopee terhadap Perkembangan Bisnis Digital di Indonesia” menyatakan bahwa penggunaan sistem transaksi terintegrasi memberikan kemudahan bagi konsumen dan meningkatkan efektivitas layanan perusahaan.

Namun demikian, penerapan Sistem Pemrosesan Transaksi masih menghadapi beberapa kendala. Biaya implementasi teknologi yang cukup tinggi menjadi salah satu hambatan bagi perusahaan kecil dan menengah. Selain itu, risiko keamanan data dan gangguan sistem juga menjadi tantangan dalam penggunaan teknologi informasi. Keterbatasan kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem digital turut mempengaruhi efektivitas penggunaan sistem tersebut.

Oleh karena itu, perusahaan perlu meningkatkan keamanan sistem serta memberikan pelatihan kepada pegawai agar penggunaan teknologi dapat berjalan secara optimal. Pengembangan infrastruktur teknologi juga perlu dilakukan untuk mendukung penerapan Sistem Pemrosesan Transaksi secara lebih luas di Indonesia.

KESIMPULAN

   Sistem Pemrosesan Transaksi memiliki peran penting dalam meningkatkan efisiensi bisnis di Indonesia. Sistem ini membantu perusahaan dalam mempercepat pengolahan transaksi, meningkatkan akurasi data, mengurangi kesalahan administrasi, dan mendukung pelayanan yang lebih baik kepada konsumen.

Penerapan sistem digital dalam berbagai sektor bisnis menunjukkan bahwa teknologi informasi menjadi kebutuhan penting di era modern. Penerapan Sistem Pemrosesan Transaksi pada Shopee Indonesia membuktikan bahwa sistem digital mampu meningkatkan efektivitas pelayanan dan efisiensi operasional perusahaan. Namun demikian, penerapan sistem masih menghadapi berbagai kendala seperti biaya implementasi, keamanan data, dan keterbatasan sumber daya manusia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan teknologi serta peningkatan kompetensi tenaga kerja agar sistem dapat dimanfaatkan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

  • Davis, Gordon B. 2019. Management Information Systems. New York: McGraw-Hill.
  • Kadir, Abdul. 2014. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
  • Laudon, Kenneth C., & Laudon, Jane P. 2018. Management Information Systems. New York: Pearson Education.
  • Sutabri, Tata. 2016. Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
  • Jogiyanto. 2017. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: Andi Offset.
LAMPIRAN






Artikel sistem informasi Managemen Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem Informasi Managament Dan E-governance Fatny Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P

 SISTEM INFORMASI MANAJEMEN SEBAGAI PENDUKUNG KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DI KOTA PADANG

Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Ekasakti Padang

Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem Informasi Managament Dan E-governance

Fani Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P

Email Penulis : Pratamayugi500@gmail.com

ABSTRAK

Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan besar dalam berbagai bidang, termasuk pelayanan publik. Pemerintah daerah dituntut untuk memberikan pelayanan yang cepat, efektif, transparan, dan efisien kepada masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) dalam proses pelayanan publik. Di Kota Padang, penggunaan sistem digital seperti SIRANCAK menjadi bentuk inovasi pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Sistem Informasi Manajemen sebagai pendukung kualitas pelayanan publik di Kota Padang.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dari berbagai jurnal, buku, dan dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Sistem Informasi Manajemen mampu meningkatkan efektivitas pelayanan, mempercepat proses administrasi, mempermudah akses informasi, serta meningkatkan transparansi pelayanan publik. Namun, penerapan sistem masih menghadapi kendala seperti keterbatasan sumber daya manusia, infrastruktur teknologi, dan rendahnya literasi digital sebagian masyarakat.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi Manajemen memiliki peran penting dalam mendukung kualitas pelayanan publik di Kota Padang. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan infrastruktur teknologi, peningkatan kompetensi pegawai, dan sosialisasi kepada masyarakat agar sistem dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kata Kunci: Sistem Informasi Manajemen, Pelayanan Publik, Teknologi Informasi, SIRANCAK, Kota Padang.

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi di era digital memberikan dampak besar terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pemerintahan dan pelayanan publik. Pemerintah dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang cepat, efektif, efisien, dan transparan kepada masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan pemanfaatan teknologi melalui Sistem Informasi Manajemen (SIM).

Menurut Jogiyanto, Sistem Informasi Manajemen merupakan kumpulan dari interaksi sistem informasi yang bertanggung jawab mengumpulkan dan mengolah data untuk menyediakan informasi yang berguna bagi semua tingkat manajemen. Gordon B. Davis menyatakan bahwa Sistem Informasi Manajemen adalah sistem manusia dan mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam organisasi. Sementara itu, Kenneth C. Laudon dan Jane P. Laudon menjelaskan bahwa Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen, dan strategi organisasi.

Dalam sektor pemerintahan, SIM berfungsi untuk membantu proses administrasi pelayanan publik agar lebih mudah, cepat, dan terstruktur. Penggunaan sistem digital juga mampu meningkatkan kualitas pelayanan serta mengurangi kesalahan dalam pengolahan data.

Kota Padang sebagai salah satu kota berkembang di Indonesia telah menerapkan berbagai inovasi pelayanan publik berbasis teknologi informasi. Salah satu bentuk penerapan tersebut adalah penggunaan aplikasi SIRANCAK yang membantu proses pelayanan administrasi secara digital. Kehadiran sistem ini memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh layanan tanpa harus melalui proses yang rumit.

Meskipun demikian, penerapan Sistem Informasi Manajemen masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, kualitas sumber daya manusia, serta rendahnya literasi digital masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengembangan sistem agar pelayanan publik dapat berjalan secara optimal.

PEMBAHASAN

1. Pengertian Sistem Informasi Manajemen

Sistem Informasi Manajemen adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk mengumpulkan, mengolah, menyimpan, dan menyajikan informasi guna mendukung kegiatan organisasi. Sistem ini membantu manajemen dalam proses perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan.

Menurut Tata Sutabri, Sistem Informasi Manajemen adalah suatu sistem dalam organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan menyediakan laporan bagi pihak tertentu. Abdul Kadir menyatakan bahwa Sistem Informasi Manajemen adalah sistem yang digunakan untuk mengelola data menjadi informasi yang berkualitas sehingga dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.

SIM terdiri dari beberapa komponen utama yaitu perangkat keras, perangkat lunak, data, prosedur, dan sumber daya manusia. Semua komponen tersebut saling berkaitan dalam menghasilkan informasi yang akurat dan relevan.

2. Peran Sistem Informasi Manajemen dalam Pelayanan Publik

Dalam pelayanan publik, SIM memiliki peran yang sangat penting. Sistem ini membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan yang lebih cepat dan efisien kepada masyarakat. Melalui sistem digital, proses administrasi dapat dilakukan secara otomatis sehingga mengurangi penggunaan waktu dan biaya.

Selain itu, SIM juga meningkatkan transparansi pelayanan karena masyarakat dapat mengakses informasi dengan lebih mudah. Penggunaan sistem berbasis teknologi juga membantu mengurangi kesalahan administrasi serta meningkatkan kualitas pengelolaan data.

Berdasarkan jurnal “Sistem Informasi Manajemen Dalam Pelayanan Publik di Kantor Catatan Sipil Kota Tomohon”, penerapan SIM terbukti mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik berbasis teknologi. Penelitian lain berjudul “Pengaruh Sistem Informasi Manajemen Terhadap Pelayanan Publik” menjelaskan bahwa SIM membantu organisasi pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui pengelolaan informasi yang lebih baik.

3. Penerapan Sistem Informasi Manajemen di Kota Padang

Pemerintah Kota Padang telah menerapkan berbagai sistem digital dalam pelayanan publik, salah satunya melalui aplikasi SIRANCAK. Sistem ini digunakan untuk mendukung proses administrasi dan pelayanan masyarakat secara elektronik.

Penerapan sistem tersebut memberikan berbagai manfaat seperti:

  1. Mempercepat proses pelayanan administrasi.
  2. Mempermudah masyarakat memperoleh informasi layanan.
  3. Mengurangi penggunaan dokumen manual.
  4. Meningkatkan efektivitas kerja pegawai.
  5. Mendukung transparansi pelayanan publik.

Penelitian yang dilakukan dalam jurnal “Penerapan Sistem Informasi Manajemen Dalam Pelayanan Publik di Kantor Kelurahan Kubu Marapalam Kota Padang” menjelaskan bahwa penerapan SIM mampu meningkatkan efisiensi dan transparansi pelayanan publik di Kota Padang.

Dengan adanya sistem digital, masyarakat tidak perlu lagi melalui prosedur yang panjang dalam memperoleh layanan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik secara signifikan.

4. Kendala dalam Penerapan Sistem Informasi Manajemen

Meskipun memberikan banyak manfaat, penerapan SIM di Kota Padang masih menghadapi beberapa kendala, antara lain:

  1. Keterbatasan jaringan internet di beberapa wilayah.
  2. Kurangnya kemampuan teknologi sebagian pegawai.
  3. Rendahnya literasi digital masyarakat.
  4. Keterbatasan fasilitas pendukung teknologi.

Kendala tersebut dapat mempengaruhi efektivitas penerapan sistem informasi dalam pelayanan publik. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan infrastruktur teknologi serta pelatihan bagi pegawai dan masyarakat.

KESIMPULAN

Sistem Informasi Manajemen memiliki peran penting dalam mendukung kualitas pelayanan publik di Kota Padang. Penerapan sistem digital seperti SIRANCAK mampu meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan transparansi pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, penggunaan teknologi informasi juga membantu mempercepat proses administrasi dan mempermudah akses informasi.

Namun demikian, penerapan sistem masih menghadapi beberapa kendala seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, kualitas sumber daya manusia, dan rendahnya literasi digital masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengembangan sistem, peningkatan kompetensi pegawai, serta sosialisasi kepada masyarakat agar pelayanan publik berbasis digital dapat berjalan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdul Kadir. 2014. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
  • Jogiyanto. 2017. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: Andi Offset.
  • Laudon, Kenneth C., & Laudon, Jane P. 2018. Management Information Systems. New York: Pearson Education.
  • Sutabri, Tata. 2016. Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
  • Tumewu, R., Rares, J., & Ruru, J. 2022. “Sistem Informasi Manajemen Dalam Pelayanan Publik di Kantor Catatan Sipil Kota Tomohon.” Jurnal Administrasi Publik.
  • Syailindri, F., Efendi, H., Putri, M., & Hanoselina, Y. 2025. “Penerapan Sistem Informasi Manajemen Dalam Pelayanan Publik di Kantor Kelurahan Kubu Marapalam Kota Padang.” Jurnal Intelek Insan Cendikia.
  • “Pengaruh Sistem Informasi Manajemen Terhadap Pelayanan Publik.” Jurnal Manajemen dan Administrasi Negara.
LAMPIRAN


Minggu, 17 Mei 2026

Artikel KONSEP DASAR SISTEM DAN INFORMASI Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem Informasi Managament Dan E-governance Fatny Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P

KONSEP DASAR SISTEM DAN INFORMASI SERTA IMPLEMENTASI SIRANCAK

 DI KOTA PADANG

Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Ekasakti Padang

Dosen Pengampu Mata Kuliah Sistem Informasi Managament Dan E-governance

Fani Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P

Email Penulis : Pratamayugi500@gmail.com

ABSTRAK

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan yang sangat besar dalam sistem pelayanan publik di Indonesia. Pemerintah mulai menerapkan sistem berbasis digital untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kualitas layanan kepada masyarakat. Salah satu penerapan nyata terdapat di Kota Padang melalui sistem SIRANCAK (Sistem Informasi Pelayanan Cepat). Artikel ini membahas konsep dasar sistem, data, informasi, dan teknologi informasi serta implementasinya dalam pelayanan publik. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa digitalisasi mampu mempercepat layanan, namun masih menghadapi tantangan seperti literasi digital masyarakat dan keterbatasan infrastruktur.

1. PENDAHULUAN

    Perkembangan teknologi informasi telah memberikan dampak yang signifikan terhadap transformasi sistem kerja organisasi, termasuk dalam sektor pemerintahan. Perubahan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut perubahan paradigma dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Pelayanan publik yang sebelumnya dilakukan secara manual dan berbasis dokumen fisik kini secara bertahap beralih ke sistem digital yang terintegrasi. Transformasi ini merupakan bagian dari upaya reformasi birokrasi untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), yang menekankan pada prinsip efisiensi, transparansi, akuntabilitas, serta peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat.

    Peralihan menuju sistem digital dalam pelayanan publik bertujuan untuk menciptakan proses administrasi yang lebih cepat, akurat, dan mudah diakses oleh masyarakat tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Selain itu, digitalisasi juga diharapkan mampu mengurangi praktik birokrasi yang berbelit serta meminimalisasi potensi kesalahan administratif yang sering terjadi dalam sistem manual. Dalam konteks ini, teknologi informasi berperan sebagai instrumen utama yang memungkinkan integrasi data, percepatan proses layanan, serta peningkatan efektivitas pengambilan keputusan dalam organisasi pemerintahan.

    Kota Padang merupakan salah satu daerah yang telah mengimplementasikan inovasi pelayanan publik berbasis teknologi informasi melalui sistem SIRANCAK (Sistem Informasi Pelayanan Cepat). Kehadiran sistem ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong transformasi digital di sektor pelayanan publik. SIRANCAK dirancang untuk memberikan kemudahan akses layanan administrasi bagi masyarakat serta meningkatkan efisiensi kinerja aparatur pemerintah. Dengan demikian, implementasi sistem ini menjadi bagian penting dari proses modernisasi birokrasi dan penguatan konsep e-government di tingkat daerah.

2. KONSEP DASAR SISTEM

    Sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang terdiri atas sekumpulan elemen atau komponen yang saling berhubungan, saling berinteraksi, dan bekerja sama secara teratur untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Dalam suatu sistem, setiap komponen memiliki peran dan fungsi masing-masing yang tidak dapat dipisahkan, sehingga keberhasilan sistem sangat ditentukan oleh keterpaduan hubungan antar komponen tersebut. Secara umum, suatu sistem terdiri dari beberapa elemen utama, yaitu input, proses, output, serta umpan balik (feedback) yang saling berkaitan dan membentuk suatu siklus yang berkesinambungan dalam mencapai tujuan organisasi atau kegiatan tertentu.

    Menurut Jogiyanto (2005), sistem merupakan jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu. Definisi ini menegaskan bahwa sistem tidak hanya sekadar kumpulan komponen, tetapi juga mencerminkan adanya keteraturan prosedural yang membentuk suatu kesatuan kerja yang terorganisir. Dengan demikian, sistem dapat dipahami sebagai mekanisme yang terstruktur dalam mengolah masukan (input) menjadi keluaran (output) yang diinginkan melalui proses yang terstandarisasi.

    Dalam konteks pemerintahan, konsep sistem dapat diimplementasikan dalam bentuk pelayanan publik yang terstruktur dan terintegrasi. Pelayanan publik sebagai sebuah sistem mencakup seluruh rangkaian proses administrasi, mulai dari tahap pengajuan permohonan oleh masyarakat, proses verifikasi dan pengolahan data oleh aparatur pemerintah, hingga penerbitan hasil atau keputusan akhir sebagai output layanan. Dengan adanya pendekatan sistem ini, diharapkan pelayanan publik dapat berjalan lebih efektif, efisien, transparan, serta mampu memberikan kepuasan kepada masyarakat sebagai pengguna layanan.

3. DATA, INFORMASI, DAN TEKNOLOGI INFORMASI

    Data, informasi, dan teknologi informasi merupakan tiga konsep dasar yang saling berkaitan dalam sistem informasi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Data merupakan sekumpulan fakta mentah yang belum memiliki makna dan masih berdiri sendiri, sehingga belum dapat digunakan secara langsung untuk pengambilan keputusan. Data dapat berupa angka, teks, simbol, maupun gambar yang diperoleh dari hasil observasi atau pencatatan suatu kejadian. Dalam konteks sistem informasi, data berfungsi sebagai input utama yang akan diproses menjadi sesuatu yang lebih bermakna.

    Setelah data melalui proses pengolahan, pengelompokan, dan analisis, maka terbentuklah informasi. Informasi merupakan hasil dari data yang telah diberi makna, konteks, dan tujuan sehingga dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Menurut Laudon dan Laudon (2016), informasi adalah data yang telah diproses sehingga memiliki makna bagi penggunanya dan berguna dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, informasi memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan data karena sudah melalui proses transformasi yang menghasilkan pemahaman yang lebih jelas.

    Sementara itu, teknologi informasi merupakan sarana atau alat yang digunakan untuk mengolah, menyimpan, memproses, dan menyebarkan informasi dengan memanfaatkan perangkat komputer, perangkat lunak, dan jaringan komunikasi. Menurut O’Brien (2011), teknologi informasi adalah kombinasi dari teknologi komputer dan telekomunikasi yang digunakan untuk memproses, menyimpan, dan mendistribusikan informasi dalam berbagai bentuk. Selain itu, menurut Jogiyanto (2005), teknologi informasi merupakan teknologi yang digunakan untuk mengolah data menjadi informasi yang berkualitas dan relevan bagi pengguna.

    Dengan demikian, data, informasi, dan teknologi informasi memiliki hubungan yang sangat erat dan saling mendukung dalam suatu sistem informasi. Data menjadi bahan dasar, informasi merupakan hasil pengolahan data, sedangkan teknologi informasi menjadi alat yang digunakan untuk mengelola keduanya secara efektif dan efisien. Dalam praktiknya, ketiga konsep ini banyak diterapkan dalam berbagai sistem pelayanan publik berbasis digital seperti Dukcapil online, OSS (Online Single Submission), serta berbagai sistem e-government di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

4. PENERAPAN DI INDONESIA (KOTA PADANG)

    Penerapan teknologi informasi dalam pelayanan publik di Kota Padang merupakan bentuk nyata dari transformasi digital di sektor pemerintahan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat. Implementasi ini dilakukan melalui berbagai sistem digital yang dikembangkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah guna menciptakan pelayanan yang lebih cepat, transparan, dan efisien. Salah satu bentuk penerapan tersebut adalah OSS (Online Single Submission), yaitu sistem perizinan berusaha secara terintegrasi secara elektronik yang memudahkan masyarakat dan pelaku usaha dalam mengurus izin tanpa harus melalui proses manual yang panjang dan berbelit.

    Selain itu, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kota Padang juga telah mengembangkan layanan administrasi kependudukan berbasis digital. Melalui sistem ini, masyarakat dapat mengurus berbagai dokumen seperti KTP, Kartu Keluarga (KK), dan akta kelahiran secara lebih mudah melalui layanan online yang telah disediakan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam pelayanan administrasi kependudukan yang sebelumnya dilakukan secara konvensional.

    Tidak hanya itu, Pemerintah Kota Padang juga mengimplementasikan sistem SP4N-LAPOR! sebagai sarana pengelolaan pengaduan masyarakat terhadap pelayanan publik. Sistem ini memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, keluhan, maupun laporan secara langsung dan terintegrasi, sehingga dapat ditindaklanjuti oleh instansi terkait secara lebih cepat dan transparan. Di samping itu, sistem pembayaran pajak daerah juga telah dikembangkan secara digital sehingga masyarakat dapat melakukan pembayaran tanpa harus datang langsung ke kantor pelayanan, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi waktu dan biaya.

    Seluruh sistem tersebut merupakan bagian dari implementasi konsep e-government di Kota Padang yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui pemanfaatan teknologi informasi. Dengan adanya digitalisasi layanan ini, pemerintah daerah diharapkan mampu memberikan pelayanan yang lebih responsif, akuntabel, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat di era modern.

5. STUDI KASUS SIRANCAK KOTA PADANG

    SIRANCAK atau Sistem Informasi Pelayanan Cepat Kota Padang merupakan inovasi pemerintah daerah yang bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah pelayanan publik berbasis teknologi informasi. Sistem ini dirancang agar masyarakat dapat mengakses layanan administrasi secara lebih cepat tanpa harus melalui proses manual yang panjang. Tujuan utama dari SIRANCAK adalah untuk mempercepat pelayanan publik, mengurangi antrean manual, meningkatkan transparansi, mempermudah akses masyarakat, serta mendukung transformasi digital pemerintahan di Kota Padang.

    Dalam pelaksanaannya, SIRANCAK digunakan untuk berbagai layanan seperti administrasi kependudukan, perizinan, pengajuan dokumen, serta pemantauan status layanan secara online. Cara kerja sistem ini dimulai dari masyarakat yang mengakses layanan melalui sistem digital, kemudian mengisi data dan mengunggah dokumen yang diperlukan. Setelah itu dilakukan proses verifikasi secara digital oleh petugas, dan masyarakat dapat memantau status layanan secara real time. Dengan adanya sistem ini, pelayanan menjadi lebih cepat, efisien, dan transparan.

    Namun demikian, implementasi SIRANCAK juga menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah rendahnya literasi digital masyarakat sehingga masih ada pengguna yang kesulitan dalam mengakses layanan. Selain itu, keterbatasan infrastruktur internet di beberapa wilayah juga menjadi tantangan dalam penerapan sistem ini. Gangguan teknis serta adaptasi pengguna terhadap sistem baru juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan lebih lanjut.

6. KESIMPULAN

    Sistem, data, informasi, dan teknologi informasi merupakan komponen yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam mendukung perkembangan pelayanan publik modern. Sistem berperan sebagai kerangka kerja yang mengatur bagaimana data dikumpulkan, diproses, dan dihasilkan menjadi informasi yang berguna, sedangkan data merupakan bahan dasar yang diolah menjadi informasi yang memiliki makna. Informasi kemudian menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan, sementara teknologi informasi berfungsi sebagai sarana atau alat yang memungkinkan seluruh proses tersebut berjalan secara cepat, akurat, dan terintegrasi.

    Dalam konteks pelayanan publik, penerapan sistem digital di Kota Padang melalui SIRANCAK menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik secara signifikan. Sistem ini memberikan kemudahan akses bagi masyarakat, mempercepat proses administrasi, serta meningkatkan transparansi dan efisiensi dalam penyelenggaraan layanan pemerintahan. Dengan adanya digitalisasi, proses pelayanan yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat diminimalkan sehingga mengurangi hambatan birokrasi dan meningkatkan kepuasan masyarakat sebagai pengguna layanan.

    Meskipun demikian, keberhasilan implementasi sistem tersebut tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan sumber daya manusia, ketersediaan infrastruktur teknologi informasi, serta tingkat literasi digital masyarakat. Tanpa dukungan faktor-faktor tersebut, sistem digital tidak akan dapat berjalan secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan dalam peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dan edukasi kepada masyarakat agar pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan publik dapat berjalan secara maksimal dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Jogiyanto. 2005. Analisis dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
Laudon, K. C. & Laudon, J. P. 2016. Management Information Systems. Pearson.
Sutabri, T. 2012. Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
O’Brien, J. A. 2011. Introduction to Information Systems. McGraw-Hill.
Jurnal: Implementasi e-Government dalam Pelayanan Publik di Indonesia.

LAMPIRAN



Cerpen Ketika Sistem Tak Lagi Sederhana oleh Yogi Pratama Saputra

KETIKA SISTEM TAK LAGI SEDERHANA 

Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Ekasakti Padang
Dosen Pengampu : Fani Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P
Email Penulis : Pratamayugi500@gmail.com


Di sebuah kota yang terus berkembang, hidup seorang mahasiswa bernama Yogi yang sedang menempuh studi Ilmu Administrasi Negara Universitas Ekasakti Padang. Sehari-hari ia tidak pernah lepas dari teknologi: smartphone, laptop, dan berbagai aplikasi pelayanan publik yang kini mulai digunakan pemerintah daerah.

Suatu hari, kampusnya mengadakan kegiatan studi lapangan ke kantor pelayanan publik di Kota Padang. Tujuannya untuk melihat bagaimana sistem digital membantu administrasi pemerintahan berjalan lebih cepat dan transparan.

Yogi dan teman-temannya disambut oleh seorang pegawai muda yang menjelaskan tentang sistem layanan berbasis aplikasi. Semua proses mulai dari pendaftaran, pengajuan dokumen, hingga pelaporan sudah dilakukan secara digital.

“Sekarang masyarakat tidak perlu lagi antre lama seperti dulu,” kata pegawai itu sambil menunjukkan layar dashboard pelayanan.

Yogi mengangguk, lalu bertanya,
“Berarti semua layanan sudah 100% digital, Pak?”

Pegawai itu tersenyum.
“Belum 100%, nak. Kita masih transisi. Tapi sebagian besar sudah digital.”

Teman Yogi ikut bertanya,
“Kalau jaringan error atau sistemnya down, bagaimana, Pak?”

Pegawai itu menarik napas kecil.
“Nah, itu tantangan terbesar. Kami masih siapkan sistem cadangan manual kalau terjadi gangguan.”

Yogi mencatat sambil mengamati layar sistem. Matanya fokus pada alur data yang bergerak cepat.

Saat sesi wawancara kecil dimulai, Yogi kembali mengangkat tangan.

“Pak, apakah semua masyarakat di Kota Padang sudah bisa menggunakan sistem ini dengan baik?”

Pegawai itu terdiam sejenak, lalu menjawab pelan,
“Tidak semuanya. Bahkan masih banyak yang datang langsung ke kantor karena tidak paham cara pakai aplikasi.”

Yogi melanjutkan,
“Berarti masih ada kesenjangan digital ya, Pak?”

“Iya,” jawab pegawai itu. “Dan itu yang sedang kami upayakan. Kami juga sering melakukan sosialisasi ke kelurahan.”

Teman Yogi menimpali,
“Kalau orang tua yang tidak punya smartphone, bagaimana?”

Pegawai itu tersenyum tipis.
“Mereka tetap dilayani. Sistem digital itu membantu, bukan menggantikan pelayanan tatap muka.”

Yogi mengangguk pelan, tapi pikirannya mulai bekerja lebih dalam.

Beberapa hari setelah kembali dari lapangan, Yogi mencoba mengakses sendiri aplikasi pelayanan publik itu.

Ia duduk di kamar sambil memegang laptop.

“Coba aku tes sendiri, seberapa mudah sebenarnya sistem ini,” gumamnya.

Ia mulai login.

“Hmm… kenapa verifikasinya lama sekali?” katanya pelan.

Ia mencoba lagi.

“Password salah? Padahal tadi sudah benar…”

Ia menghela napas dan membuka ponselnya.

“Kalau aku saja agak bingung, apalagi masyarakat yang tidak terbiasa,” ucapnya pelan.

Ibunya yang sedang lewat di belakang bertanya,
“Kamu kenapa dari tadi ngomel sendiri, Yog?”

Yogi tersenyum kecil.
“Ini aplikasi pelayanan publik, Bu. Katanya gampang, tapi ternyata masih membingungkan.”

Ibunya menjawab sederhana,
“Kalau orang tua seperti ibu, mungkin malah tambah pusing.”

Kalimat itu membuat Yogi terdiam.

Keesokan harinya di kampus, Yogi berdiskusi dengan dosennya.

“Pak, saya menemukan masalah di lapangan,” kata Yogi.

Dosen bertanya,
“Masalah apa itu?”

“Walaupun sudah digital, masih banyak masyarakat yang kesulitan mengaksesnya. Bahkan sistemnya sendiri belum sepenuhnya ramah pengguna.”

Dosen mengangguk.
“Itu temuan penting. Lalu menurut kamu solusinya?”

Yogi menjawab mantap,
“Mungkin perlu desain ulang sistem yang lebih sederhana, Pak. Dan edukasi digital untuk masyarakat.”

Dosen tersenyum.
“Bagus. Itu sudah masuk ke arah kebijakan publik berbasis kebutuhan masyarakat.”

Yogi kemudian menulis laporan dengan judul “Desain Sistem Pelayanan Publik yang Ramah Pengguna di Kota Padang”.

Di dalam tulisannya, ia menambahkan banyak hasil wawancara dan pengalaman langsung.

Beberapa bulan kemudian, saat presentasi di kelas, Yogi berdiri di depan teman-temannya.

“Teknologi itu bukan hanya soal cepat dan canggih,” katanya.

Salah satu teman bertanya,
“Kalau tidak canggih, buat apa digitalisasi, Yog?”

Yogi menjawab tenang,
“Bukan begitu maksudnya. Teknologi harus tetap canggih, tapi juga harus bisa dipakai semua orang.”

Teman lain menambahkan,
“Jadi harus seimbang ya?”

“Ya,” jawab Yogi. “Kalau hanya canggih tapi sulit digunakan, itu malah jadi masalah baru.”

Dosen kemudian bertanya,
“Kalau kamu jadi pembuat kebijakan, apa langkah pertama kamu?”

Yogi menjawab tanpa ragu,
“Saya akan memastikan sistem itu benar-benar bisa digunakan masyarakat, bukan hanya terlihat modern di atas kertas.”

Dosen mengangguk puas.
“Pemikiran yang bagus.”

Setelah presentasi selesai, Yogi berdiri di depan jendela kampus. Di luar, ia melihat orang-orang menggunakan ponsel mereka untuk berbagai keperluan.

Temannya mendekat dan berkata,
“Kamu serius banget sih dari tadi.”

Yogi tersenyum.
“Kadang teknologi itu kelihatan sederhana, tapi dampaknya besar.”

Temannya menjawab santai,
“Yang penting kan membantu orang, ya?”

Yogi mengangguk.
“Iya. Dan tugas kita memastikan semua orang bisa merasakannya.”

Ia menatap langit Kota Padang yang mulai senja.

Di dunia nyata, teknologi tidak selalu sempurna. Tapi di tangan manusia yang tepat, teknologi bisa menjadi jembatan bukan penghalang antara kemajuan dan kehidupan sehari-hari.

Artikel Harapan dan Impian Yogi Pratama Saputra 10 Tahun ke Depan

 

Harapan dan Impian Yogi Pratama Saputra 10 Tahun ke Depan 

Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Ekasakti Padang
Dosen Pengampu : Fani Ratny Pasaribu, S.AP., M.A.P
Email Penulis : Pratamayugi500@gmail.com 
Kontak Person : 089630772229





Setiap manusia memiliki harapan dan impian yang menjadi arah dalam menjalani kehidupan. Harapan tersebut berfungsi sebagai motivasi utama untuk terus belajar, berkembang, serta berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan, baik dari segi pendidikan, karir, maupun kehidupan sosial. Tanpa adanya harapan dan impian, seseorang akan sulit memiliki tujuan yang jelas dalam menjalani proses kehidupan yang penuh tantangan dan persaingan. Oleh karena itu, impian menjadi salah satu faktor penting yang mendorong setiap manusia untuk tetap konsisten dalam berusaha dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan yang muncul dalam perjalanan hidup.

Demikian pula sebagai mahasiswa Ilmu Administrasi Negara di Universitas Ekasakti Padang, terdapat berbagai tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Tujuan tersebut tidak hanya berfokus pada aspek karir semata, tetapi juga mencakup cita-cita dalam kehidupan pribadi, kontribusi terhadap masyarakat, serta tanggung jawab terhadap keluarga. Dalam konteks ilmu administrasi negara, mahasiswa dituntut untuk memiliki visi masa depan yang jelas karena bidang ini sangat erat kaitannya dengan pelayanan publik, kebijakan pemerintahan, serta pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, harapan dan impian yang dimiliki tidak hanya bersifat individual, tetapi juga memiliki nilai sosial yang lebih luas.

Selain itu, proses pembentukan harapan dan impian ini juga dipengaruhi oleh pengalaman selama menjalani perkuliahan, lingkungan akademik, serta interaksi dengan dosen dan sesama mahasiswa. Semua pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya peran seorang lulusan administrasi negara dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu, setiap mahasiswa diharapkan mampu merancang masa depan dengan matang, realistis, serta disertai dengan usaha yang konsisten agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai secara bertahap.

A. Target Karir

Dalam 10 tahun ke depan, target karir utama yang ingin dicapai adalah menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Profesi ini dipilih karena memiliki peran yang sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik di Indonesia. Sebagai lulusan dari Program Studi Ilmu Administrasi Negara di Universitas Ekasakti Padang, menjadi PNS merupakan bentuk pengabdian nyata kepada negara melalui pelayanan kepada masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.

Menjadi PNS juga diharapkan dapat memberikan kestabilan karir, kesempatan untuk mengembangkan kompetensi, serta ruang untuk berkontribusi dalam meningkatkan kualitas birokrasi pemerintahan. Selain itu, seorang PNS dituntut untuk profesional, disiplin, serta memiliki integritas tinggi dalam menjalankan tugasnya. Hal ini menjadi motivasi tersendiri untuk mempersiapkan diri sejak dini agar mampu bersaing dalam seleksi dan menjalankan tugas dengan baik di masa depan.

B. Cita-cita

Selain target karir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), terdapat cita-cita lain yang ingin diwujudkan dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, yaitu memiliki usaha mandiri berupa minimarket. Cita-cita ini muncul sebagai bentuk keinginan untuk mencapai kemandirian ekonomi sekaligus menciptakan peluang usaha yang tidak hanya memberikan manfaat secara pribadi, tetapi juga memiliki dampak positif bagi masyarakat luas. Dalam era modern seperti saat ini, kemandirian ekonomi menjadi salah satu aspek penting yang perlu dikembangkan, terutama melalui kegiatan wirausaha yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Minimarket yang direncanakan tidak hanya berfungsi sebagai tempat usaha dalam konteks ekonomi semata, tetapi juga sebagai sarana untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok dengan lebih mudah, cepat, dan terjangkau. Keberadaan minimarket di lingkungan sekitar diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan efisiensi pemenuhan kebutuhan masyarakat tanpa harus menempuh jarak yang jauh. Selain itu, sistem pelayanan yang baik, ketersediaan barang yang lengkap, serta harga yang kompetitif menjadi aspek penting yang diharapkan dapat diterapkan dalam pengelolaan usaha tersebut.

Lebih jauh lagi, usaha ini diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, khususnya masyarakat di lingkungan sekitar. Dengan demikian, minimarket tersebut tidak hanya berperan sebagai unit usaha individu, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dampak sosial yang dihasilkan diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat pengangguran serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi usaha. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan wirausaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memiliki nilai sosial yang penting.

Dengan adanya usaha tersebut, diharapkan tercipta keseimbangan antara pekerjaan sebagai PNS dan kegiatan wirausaha yang saling mendukung dalam meningkatkan kesejahteraan hidup. Keseimbangan ini mencerminkan kemampuan dalam mengelola waktu, tanggung jawab, serta peran ganda dalam bidang pemerintahan dan ekonomi. Pada akhirnya, sinergi antara profesi dan usaha diharapkan dapat memberikan stabilitas finansial, pengembangan diri, serta kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

C. Peran yang Ingin Dicapai di Masyarakat

Dalam kehidupan bermasyarakat, peran yang ingin dicapai adalah menjadi individu yang bermanfaat dan mampu memberikan kontribusi positif. Hal ini dapat diwujudkan melalui dua jalur utama, yaitu sebagai aparatur pemerintahan dan sebagai pelaku usaha.

Sebagai calon PNS, peran yang diharapkan adalah mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas, profesional, responsif, serta berorientasi pada kepentingan masyarakat. Selain itu, diharapkan juga dapat berkontribusi dalam meningkatkan efektivitas administrasi pemerintahan serta mendukung terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

Sementara itu, sebagai pelaku usaha melalui minimarket, peran yang ingin dicapai adalah membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang kerja bagi orang lain. Kehadiran usaha tersebut diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar, baik dari segi ekonomi maupun sosial.

Selain itu, terdapat peran yang lebih personal dan bermakna, yaitu memberikan kebahagiaan kepada keluarga, terutama orang tua. Membahagiakan orang tua menjadi motivasi utama dalam meraih kesuksesan. Selain itu, memiliki kesempatan untuk menyekolahkan adik-adik hingga jenjang sarjana juga menjadi tujuan penting sebagai bentuk tanggung jawab dan dukungan terhadap pendidikan keluarga.

D. Pengembangan Diri dan Motivasi Masa Depan

Dalam mencapai semua harapan tersebut, pengembangan diri menjadi hal yang sangat penting. Proses pendidikan di bangku kuliah menjadi dasar utama dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan. Disiplin, kerja keras, serta konsistensi dalam belajar menjadi kunci utama dalam mencapai kesuksesan.

Selain itu, lingkungan akademik yang kondusif, dukungan dosen yang kompeten, serta fasilitas yang memadai menjadi faktor pendukung yang memperkuat semangat untuk terus berkembang. Tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga melalui pengalaman lapangan dan interaksi sosial yang membentuk kepekaan terhadap permasalahan masyarakat.

Penutup

Harapan dan impian dalam 10 tahun ke depan merupakan gambaran masa depan yang ingin dicapai melalui usaha, doa, dan kerja keras yang berkesinambungan. Setiap manusia memiliki tujuan hidup yang menjadi arah dalam menjalani proses kehidupan, sehingga impian tersebut tidak hanya berfungsi sebagai angan-angan, tetapi juga sebagai motivasi yang mendorong seseorang untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas diri. Keinginan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil, membuka usaha minimarket, serta memberikan kontribusi kepada keluarga dan masyarakat menjadi motivasi utama dalam menjalani kehidupan saat ini, khususnya dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter sebagai mahasiswa Ilmu Administrasi Negara.

Dengan tekad yang kuat, diharapkan seluruh impian tersebut dapat terwujud secara bertahap melalui proses yang terencana, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Setiap langkah yang diambil dalam kehidupan saat ini menjadi bagian penting dari perjalanan menuju masa depan yang diinginkan. Oleh karena itu, diperlukan konsistensi dalam belajar, kerja keras dalam menghadapi tantangan, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar. Lebih dari itu, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh sikap, mental, serta etika dalam menjalani kehidupan.

Lebih dari itu, kesuksesan yang dicapai tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Keberhasilan dalam meraih cita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil maupun dalam mengembangkan usaha minimarket diharapkan mampu memberikan dampak positif, baik dalam bentuk peningkatan kesejahteraan ekonomi maupun kontribusi sosial. Dengan demikian, impian yang dimiliki tidak hanya berorientasi pada pencapaian individu, tetapi juga pada nilai kebermanfaatan bagi orang lain dan lingkungan sekitar.

 luas bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat sekitar.

Artikel E-GOVERNMENT DI INDONESIA: PENERAPAN, PERMASALAHAN, DAN PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP SIRANCAK

  E-GOVERNMENT DI INDONESIA: PENERAPAN, PERMASALAHAN, DAN PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP SIRANCAK Yogi Pratama Saputra Program Ilmu Administra...